• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Fri Suhandy

Minggu, 12 November 2017

Ketika kita berbicara mengenai tetap tegar di masa sukar, ini berarti membicarakan mengenai kesetiaan kita di mata Tuhan dalam keadaan sukar. Namun sesungguhnya baik saat kita susah maupun saat jaya; kita perlu terus belajar tegar, untuk setia kepada Tuhan. Memang saat kesusahan, adalah ujian atas kesetiaan kita, sebab pada masa susah orang bisa meragukan kebaikan Tuhan; namun masa jaya pun mempunyai kesulitannya tersendiri untuk tetap setia kepada Tuhan, sebab kadang orang bisa melupakan kebaikan Tuhan yang sudah membuat dirinya menjadi jaya.
Sebelum Musa melepaskan bangsanya untuk masuk ke tanah perjanjian, sebagai orang yang berpengalaman dia tahu ada bahaya yang sedang menanti bagi bangsa ini dalam kehidupan, sehingga Musa memberikan dua pesan penting:
1. Ulangan 8:2
Jangan pernah meragukan kebaikan Tuhan dalam kesusahan. “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu di padang gurun … dengan maksud merendahkan hatimu .…” Semua kesulitan di padang gurun diizinkan Tuhan untuk memproses bangsa Israel supaya menjadi umat Allah yang rendah hati, yang mengakui bahwa Tuhan dan firman-Nya adalah sumber kehidupan dan sumber pertolongan dalam kesukaran. Bukan tanpa tujuan Tuhan membiarkan umat-Nya lapar di padang gurun, tetapi supaya mereka memahami, bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan.
Saya pernah memimpin sekelompok jemaat Tuhan ke Israel. Kami sempat melewati padang gurun, dengan bus kecil selama berjam-jam. Kami hanya melihat gundukan pasir yang gersang seolah menggambarkan pemandangan akan kehidupan yang tanpa harapan. Tetapi selama empat puluh tahun Tuhan telah membuktikan bahwa Ia sanggup untuk memelihara bangsa Israel, dengan memberikan makanan manna yang tidak pernah dikenal oleh mereka, dan minuman yang muncul dari batu-batu yang keras. Juga dikatakan: Kekuatan kaki yang tidak menjadi bengkak dan pakaian yang tidak menjadi usang.
Apakah tujuan dari perjalanan empat puluh tahun di padang pasir itu?
Dikatakan, “... untuk membuat engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Yaitu bahwa tanpa Tuhan dan firman-Nya, maka yang ada hanyalah kebinasaan. Maka itu umat tidak boleh melupakan, atau meragukan kebaikan Tuhan dalam kehidupannya. Supaya apabila mereka melangkah masuk ke dalam tanah Kanaan, dan menemui kesulitan-kesulitan besar, mereka ingat bahwa sumber kehidupan ini hanya pada Allah dan firman-Nya.
Pesan ini pun masih relevan bagi kita saat ini, yaitu supaya kita bisa menaruh Allah dan firman-Nya di atas segalanya. Tuhan Yesus waktu dicobai, mengatakan bahwa manusia hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Suatu gambaran dan pengajaran bagi kita bahwa dalam kehidupan ini sesusah apa pun, dan selapar apa pun, janganlah kita menempatkan kebutuhan fisik melampaui hidup yang berjalan sesuai firman yang keluar dari mulut Allah. Jangan sampai karena lapar kita mengorbankan iman dan firman-Nya. Sebab lebih baik kelaparan tetapi hidup dalam firman Tuhan daripada hidup dalam keadaan kenyang tetapi menuruti perintah Iblis. Karena ketika hati kita terpaut kepada Allah dan firman-Nya, maka Tuhan pasti akan bertindak memberikan pertolongan sesuai dengan cara-Nya.
Sekali lagi saya tekankan, “Sesuai dengan cara-Nya!!!” Karena Ia adalah Tuhan yang berdaulat dan mampu. Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita. Tuhan bisa mengubah padang gurun menjadi tanah yang subur, tetapi Dia mempunyai cara-Nya sendiri untuk mendidik umat-Nya agar memiliki karakter yang rendah hati dan tegar. Sama seperti seorang ayah yang mendidik anaknya supaya bisa hidup mandiri dan memiliki karater yang indah, kadang-kadang kita harus membiarkan sang anak untuk menerima konsekuensi akibat kesalahannya. Sampai batas tertentu yang tidak membahayakan, si anak harus melewati kesusahan itu.
Begitu juga dengan Tuhan. Kondisi hidupmu memang penting bagi Tuhan, tetapi kualitas hatimu jauh lebih penting. Jadi kalau Tuhan tidak dengan segera mengubah keadaan saat kesusahan melanda, percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja untuk membentuk kualitas hati kita, supaya kita berjuang untuk menaklukkan keadaan susah yang kita hadapi. Tuhan kita adalah Tuhan yang jauh lebih tertarik dengan kerendahan hati umat-Nya melampaui kenyamanan hidupnya. Dia bukannya tidak mampu menolong kita dari kesusahan, tetapi Dia ingin membentuk kita, Dia harus izinkan kesusahan untuk dilewati sampai kesusahan itu sudah membentuk kualitas hati yang diharapkan muncul di dalam diri kita sebagai anak yang kekasih.
Sesudah Tuhan membentuk kualitas hati kita, terlalu mudah bagi Tuhan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Contoh yang jelas dalam Matius 15:21–28, Tuhan Yesus menguji iman wanita Kanaan yang berteriak-teriak minta tolong, seolah tanpa belas kasihan, tetapi setelah Dia selesai menguji kualitas imannya sampai seperti yang Dia inginkan, dengan mudah Tuhan menyembuhkan anak wanita itu.
Maka kalau kita mengalami kesusahan, jangan berhenti untuk berdoa dan mencari Tuhan. Tetapi kalau kamu melepaskan diri dari Tuhan, itu adalah pilihan terbodoh yang pasti akan mencelakakan diri kita.
2. Ulangan 8:11
Perintah supaya jangan melupakan kebaikan Tuhan ketika sudah masuk dalam kejayaan yaitu setelah masuk dalam suatu negeri yang penuh dengan susu dan madu. Masa yang lancar, adalah masa yang sukar untuk menjaga imanmu. Musa paham, di balik kejayaan seseorang memiliki suatu bahaya yang bisa menghancurkan, yaitu: tinggi hati. Jadi Musa memperingatkan agar umat tetap ingat Tuhan, sebab Ia adalah Tuhan yang menentang orang-orang yang congkak (Amsal 16:4, 16:18, 18:12, dan lain-lain).
Sekaya apa pun engkau, setinggi apa pun jabatanmu, setinggi apa pun pendidikanmu; kita harus akui bahwa kita tidak bisa mengatur detak jantung kita. Ketika Tuhan menentukan supaya detak jantungmu berhenti, engkau tidak punya hak untuk melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Paulus meminta Timotius untuk memperingatkan kepada orang-orang kaya di dunia ini agar jangan tinggi hati dan jangan berharap kepada sesuatu seperti kekayaan, tetapi supaya mereka memakai kekayaannya untuk berbuat baik (1 Timotius 6:17).
Kejayaan, kekayaan, kepintaran, kesehatan itu adalah anugerah. Anugerah bersifat umum, yaitu diberikan kepada siapa yang Dia ingin berikan. Orang-orang yang tidak percaya Yesus pun ada banyak yang lebih cakep, lebih kaya, dan lebih hebat dari kita. Tetapi anugerah sifatnya sementara, kalau tidak dimanfaatkan anugerah itu, tidak akan ada gunanya. Kita harus memakai anugerah itu untuk melayani Tuhan dan sesama supaya menjadi berkat, jangan menjadi sampah, sebab kita tidak bisa membawa kekayaan dan kehebatan kita setelah meninggal. Jangan sampai kita menjadi orang yang tinggi hati dalam kejayaan, seperti orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16–21).
Daud menjadi orang yang berkenan di hati Allah karena dia sekalipun dia berada dalam puncak kejayaan namun tetap rendah hati. Ketika dosanya ditegur, dia mengakuinya dengan segala kerendahan hati. Allah membenci orang yang congkak, tetapi meninggikan orang yang rendah hati.
Kesimpulan:
Jangan meragukan kebaikan Tuhanmu pada masa kesusahan.
Jangan melupakan kebaikan Tuhanmu pada masa kejayaan.
Hati yang SETIA: Susah Enak Tetap Ikut Allah
 

(Disarikan oleh Elasa Noviani)

Ulangan 8:1-20

 

8:1   "Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.

8:2
 
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

8:3
 
Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.

8:4
 
Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.

8:5
 
Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

8:6
 
Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.

8:7
 
Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung;

8:8
 
suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya;

8:9
 
suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.

8:10
 
Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

8:11
 
Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;

8:12
 
dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,

8:13
 
dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,

8:14
 
jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

8:15
 
dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,

8:16
 
dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.

8:17
 
Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

8:18
 
Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

8:19
 
Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa;

8:20
 
seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu."

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017