• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Tommy Elim

Minggu, 8 Oktober 2017

Ketaatan; seberapa sulitkah dalam kehidupan kita untuk taat terhadap perintah Tuhan? Untuk taat, bukan hal yang mudah, harus bergumul dan berjuang habis-habisan. Karena dengan mudah kita tidak taat dan melakukan ketidakbenaran. Tema kali ini sangat sulit, karena untuk taat dalam keadaan normal saja tidak gampang, apalagi taat dalam penderitaan. Hidup benar, hidup lurus; ketika diperlakukan tidak benar, tidak adil; natur manusia akan keluar yaitu melawan.
Dalam Ibrani 5, memuat realitas ketaatan dalam konteks ketaatan Kristus, ayat 5, “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat ....” Panggilan kita bukan hanya sekadar untuk taat, tapi Ibrani mengajak kita untuk melihat kepada teladan Kristus. Kristus yang meskipun adalah Anak yang datang ke dunia ini dalam hidupnya mengambil langkah ketaatan, maka itulah pilihan yang harus kita lakukan sebagai orang yang mengaku sebagai murid Kristus. Jalan Kristus adalah jalan ketaatan. Maka ketaatan menjadi sebuah panggilan dan tuntutan ketika kita menjadi murid-Nya.
Penulis mengeksplorasi bagaimanakah realitas perjalanan ketaatan Kristus dalam pasal 5 ayat 7 di Getsemani, bahwa Yesus melaluinya dengan ratap tangis dan keluhan. Dalam peristiwa ini, cawan yang pahit itu tidak lalu dan Kristus taat sampai mati. Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, cepat atau lambat pasti akan kita hadapi. Namun dalam proses kematian Kristus pun Ia taat dalam penderitaan digantung di kayu salib, ditonton, dan dihina. Kalau kita sungguh-sungguh mau menjadi anak-anak Tuhan, perjalanan kita bukanlah perjalanan yang mudah. Kita sangat mungkin berhadapan dengan masa depan yang gelap, prestasi yang tidak mulus, relasi yang disakitkan satu sama lain.
Yesus berdoa sebanyak tiga kali untuk cawan itu boleh berlalu, tapi sepertinya doa itu tidak didengarkan. Mengapa dalam ayat ke-7, tertulis, “… dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Allah kita yang dalam kebenaran-Nya Ia tidak akan diganggu gugat oleh keberadaan manusia. Lukas 22:43 tergambar bagaimana Tuhan menjawab dengan tidak mengambil cawan tapi memberikan kekuatan Bapa kepada Anak untuk dapat melewatinya. Dalam perjalanan iman yang terpenting adalah ada Tuhan yang menyertai. Meskipun jalan hidup kita tidak lancar, yang terpenting adalah Tuhan ada di situ. Orang Kristen harus optimis karena keyakinan bahwa ada Tuhan bersama kita dalam keadaan apa pun. Daripada pada saat kesesakan dan penderitaan kita mempertanyakan kondisi dan keadaan, lebih baik kita melaluinya dengan yakin bahwa Tuhan ada beserta kita dan Ia tidak akan tinggalkan.
Iman Kristen bukan iman yang gampang, tapi karena ada Tuhan hal itu menjadi mungkin. Ibrani pasal 5, berbicara tentang panggilan keimaman. Panggilan imam adalah tugas yang mulia, panggilan khusus untuk suku Lewi yang khusus untuk menyukakan hati Tuhan. Ketika imam membawa korban persembahan, korban itu akan berbau harum dan menyukakan hati Tuhan. Seperti itu juga sukacita Tuhan ketika Ia mendapat korban persembahan dari kita yang adalah hidup kita. Ketika kita punya hati belajar untuk hidup taat, maka ketaatan kita itu menjadi menu favorit yang menyukakan Dia. Semakin dewasa kita, sering kita seperti ‘mengakali’ Tuhan. Sudah berapa tahunkah kita hidup sebagai orang Kristen? Dan seberapa dewasakah kehidupan rohani kita? Panggilan ketaatan adalah panggilan makanan keras, seperti yang termuat di Ibrani 5:12. Banyak pengajar Kristen di zaman ini memberikan hal-hal yang enak saja, bahkan mengajarkan bahwa tidak masalah untuk berbuat dosa karena Tuhan akan mengampuni. Ajaran ini (hyper-grace) menekankan pada Perjanjian Baru bahwa Allah penuh kasih selalu mengampuni dan memaafkan, dan mengabaikan konsep Perjanjian Lama bahwa Allah adalah adil dan Allah tidak bisa bermain-main dengan anugerah dan hidup yang tidak benar. Kita harus seimbang antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; kalau kita tekankan Perjanjian Lama maka tidak ada harapan dalam hidup kita, karena wajah kita adalah maut. Tapi jika hanya melihat pada Perjanjian Baru kita hanya bermain-main dengan dosa.
Seorang teolog dari Jerman, Dietrich Benhoeffer mengingatkan tentang ‘cheap grace’ di tahun 1940-an, bahwa manusia lebih senang dengan anugerah murahan; bahwa ikut Tuhan semua lancar, semua baik. Ini hal yang mematikan bagi gereja, gereja kelihatan bertambah secara jumlah tapi tidak bertumbuh secara kualitas. Dietrich Benhoeffer menyatakan ketika Tuhan memanggil manusia, Ia memanggil untuk datang dan harus siap untuk mati. Pada akhirnya Benhoeffer mati digantung oleh Hitler 9 April 1945, padahal tanggal 23 April 1945 Hitler ditaklukkan oleh sekutu. Merupakan kedaulatan Tuhan, mengapa pastor yang begitu baik dan setia taat pada Tuhan diizinkan untuk menghadapi maut. Kalimat terakhirnya adalah, “It is the end. For me it is the beginning of life.” Salah satu ayat favoritnya adalah Mazmur 73:26, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Penderitaan, pergumulan tetap ada selama kita hidup; kita tidak boleh menyerah karena gunung batu kita adalah Allah. Belajar untuk taat dalam perjalanan hidup kita sampai akhirnya.
 

(Disarikan oleh Lily Ekawati)

Ibrani 5

 

5:1   Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.

5:2
 
Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan,

5:3
 
yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri.

5:4
 
Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

5:5
 
Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini",

5:6
 
sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

5:7
 
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

5:8
 
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

5:9
 
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

5:10
 
dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

5:11
 
Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.

5:12
 
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

5:13
 
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

5:14
 
Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017