• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Joni Sugicahyono

Minggu, 1 Oktober 2017

Masih banyak orang yang tidak mengenal pribadi Yesus, baik di zaman ini maupun zaman ketika Yesus ada di dalam dunia ini sekitar dua ribu tahun yang lampau.
Ketika Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Siapakah Aku menurut kamu?” pertanyaan tersebut mengisyaratkan bahwa tidak banyak orang yang benar-benar mengenal Dia, bahkan oleh murid- muridNya sendiri yang setiap hari berjalan bersama Dia. Pertanyaan tersebut mengungkapkan sebuah pertanyaan yang sangat personal. Yesus benar-benar ingin agar mereka yang setiap hari mengikut Dia benar-benar mengenal-Nya.
Mengenal Kristus adalah kata kunci untuk menemukan kehidupan kekal. Oleh sebab itu Yesus berusaha untuk menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti oleh mereka sesuai situasi zaman itu. Salah satu yang Ia jelaskan adalah dengan memakai gambaran sebagai pintu. Pernyataan “Akulah pintu” yang Yesus gunakan adalah sebuah pernyataan metafora. Mengapa Yesus menggunakan kalimat metafora dan bukan kalimat preposisi/kalimat langsung? Sebab tidak ada kalimat langsung yang dapat menjelaskan pribadi-Nya yang tak terbatas, sebuah pribadi yang tak bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia yang terbatas itu.
Pintu adalah sebuah kata yang dapat dimengerti oleh semua orang, dan pintu pada sebuah kandang domba merupakan hal yang sangat familier bagi orang Israel. Setiap orang Israel mengerti arti kata pintu pada sebuah kandang domba, karena banyak orang Israel hidup sebagai peternak domba atau paling tidak tahu kehidupan seorang gembala domba.
Pada waktu itu di Israel domba-domba dikandangkan di sebuah tanah yang luas, berpagar dan berpintu. Pintu tersebut dijaga oleh seorang penjaga dan dikunci. Setiap hari, para gembala mengeluarkan domba- domba itu satu per satu melalui pintu itu sehingga suara gembala itu sangat dikenal oleh domba- dombanya. Gembala itu akan berjalan di depan rombongan domba-dombanya dan membawa mereka ke padang rumput dan air yang tenang.
Jika padang rumput yang terletak dekat dengan kandang itu sudah mulai habis rumputnya, gembala itu akan menggiring domba-dombanya lebih jauh dari rumah untuk mencari padang rumput yang rumputnya masih tebal dan hijau. Demikian seterusnya gembala itu akan selalu mencari padang rumput dan semakin jauh sehingga bisa berminggu-minggu tidak pulang ke rumah. Ketika mereka jauh dari rumah, gembala itu akan membuat pagar keliling dan membuat pintu kecil yang sebesar tubuhnya (biasanya gembala itu duduk di pintu itu) sehingga domba-domba itu hanya bisa masuk dan keluar melalui pintu kecil itu.
Gambaran sebagai pintu yang disampaikan oleh Yesus itu, bahwa Dia adalah pintu itu sendiri, adalah sebuah penegasan bahwa anugerah itu hanya diberikan oleh Dia. Pintu itu kecil/sempit sehingga tak ada domba yang bisa keluar dan masuk tanpa melaluinya. Barang siapa menemukan pintu itu—sama seperti domba-domba—maka ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Padang rumput menggambarkan semua hal yang manusia cari. Apakah yang paling hakiki yang dicari oleh manusia yang berdosa? Tak lain adalah pengampunan akan dosa dan keselamatan kekal. Dan Yesus adalah satu-satunya pintu pengampunan dan keselamatan itu.
Ulangan 28:6 menyatakan, “Diberkatilah engkau pada waktu masuk, dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Kalimat ini menggambarkan janji Allah untuk memberikan rasa aman dan sentosa. Selain itu, kata “keluar-masuk” merupakan sebuah simbol kehidupan yang berkelimpahan. Hidup dalam segala kelimpahan artinya:
  1. Hidup yang terus menjadi berkat bagi orang lain walaupun kita sedang menghadapi masalah dan penderitaan.
  2. Selalu bersukacita dalam segala keadaan/situasi, bukan hanya dalam satu situasi, misalkan: hanya saat sehat, hanya saat banyak harta, hanya saat mendapatkan apa yang diinginkan.
  3. Hidup yang selalu bersyukur.
Sebagai orang-orang yang dahulu tidak mengenal Tuhan, kita patut bersyukur karena telah menemukan ‘pintu’ itu. Lewat pintu itulah—yaitu Yesus Kristus—kita menemukan padang rumput dan air yang tenang, kita bisa keluar-masuk dengan aman dan sentosa, dan kita secara ultimate mendapatkan kehidupan kekal.
Tetapi ‘pintu’ yang sudah tersedia itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak bersedia memasukinya.
 

(Disarikan oleh Titus Jonathan)

Yohanes 10:1–10

 

10:1   "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;

10:2
 
tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

10:3
 
Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

10:4
 
Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

10:5
 
Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."

10:6
 
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

10:7
 
Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.

10:8
 
Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

10:9
 
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

10:10
 
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017