• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Yakub Tri Handoko

Minggu, 17 September 2017

Ketika kita bisa memuliakan Allah dan memuji-Nya ini merupakan hal terbesar yang bisa kita lakukan untuk Dia. Karena untuk dapat menyembah Allah bayarannya mahal yaitu Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal membuka jalan ibadah sehingga kita bisa menyembah dan memuji-Nya. Menurut Katekismus Westminster karena kita diciptakan untuk memuliakan dan menikmati Dia selama-lamanya. John Piper mengatakan di antara menyembah atau memberitakan Injil yang lebih besar adalah menyembah Dia. Mengapa misi ada? John Piper mengatakan karena ibadah tidak ada di sana, maka Injil perlu dibawa ke sana, tujuan akhirnya adalah we praise the Lord. Karena itu sangat luar biasa kalau tiap minggu kita bisa beribadah kepada-Nya.
Mazmur 103:1-5 Mazmur ini sangat Indah sekali. Dalam bahasa Inggris diberi judul “Bless the Lord, O My Soul”. Mana yang benar, memberkati Tuhan atau diberkati Tuhan. Bless di sini berasal dari kata Ibrani, yang ketika diterjemahkan ‘memberkati Allah’ artinya mengucapkan hal-hal baik kepada Allah dan tentang Allah. Arti kata bless di sini beda dengan blessed yang ada di ayat lain. Dari kata Ibrani, barukh sama dengan barokah yang di Indonesia “berkah”. Beda dengan Mazmur 1 misalnya, bless di sini dalam bahasa Ibrani bersifat satu arah, Allah memberkati kita. Sedangkan yang di 103 arti Ibraninya bisa dua arah. Intinya adalah memuji Allah sama dengan memberkati Allah karena kita mengucapkan hal-hal yang baik tentang-Nya. Klimaks Mazmur 103 akan ada klimaksnya di bagian terakhir. Pertama Daud bercerita tentang dirinya sendiri, tapi di ayat ke-6 tentang bangsa Israel yang memuji Allah, ayat ke-19 puji-pujian seluruh malaikat di surga kepada Allah. Puji-pujian yang hebat dalam gereja pasti asalnya dari diri sendiri. Transformasi dimulai dari diri sendiri. Daud ingin supaya kita tidak hanya memuji dari jiwa kita, namun juga segenap batin kita. Maksudnya Daud ingin agar pujian mulai dari hati dan keluar di mulut. John MacArthur menyatakan pujian adalah respons dari dalam hati kita terhadap siapa Allah juga siapa kita dan diungkapkan dalam bentuk ekspresi. Kita bisa menyembah Allah dengan berbagai gaya dan tradisi juga ekspresi. Apa yang paling penting bukan apa gaya kita, namun dalam hati kita; karena ekspresi tergantung budaya, usia, dan latar belakang. Mengapa Daud perlu mengajak jiwanya memuji Tuhan? Adakalanya kita kehilangan/kehabisan alasan untuk memuji dan bersukacita di dalam Tuhan. Mungkin hal ini terjadi pada saat kita sedang kehilangan seseorang yang kita kasihi atau mendapat musibah besar atau sedang merasakan kesulitan pergumulan yang besar dalam hidup, bagaimana mungkin kita bisa untuk memuji Tuhan?
Mazmur 103 memberi kita alasan yang cukup untuk dapat selalu memuji Dia di segala keadaan dan waktu.
Alasan ke-1. Karena keterpisahan Allah dari kita. Karena kebesaran Allah yang tidak terpahami oleh kita.
Ayat 1, “Dari Daud. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Pujilah Tuhan sejajar dengan pujilah nama-Nya yang kudus. Jiwaku sejajar dengan segenap batinku. Bagi orang Ibrani nama mencerminkan kepribadian. Di dalam budaya Ibrani sering ada perubahan nama bila ada perubahan fase hidup dan karakter. Kudus artinya suci, tidak bercela, tidak berdosa. Jika disangkutkan ke Allah kata “kudus” artinya terpisah. Ketika kita mengakui bahwa Allah itu kudus; artinya Allah terpisah dari manusia, transenden luar biasa. Secara esensi/natur; Allah mulia, besar, terpisah dari ciptaan-Nya; kita ini begitu kecilnya di hadapan Allah yang begitu besar. Tiap kali kita sadar bahwa kita ini kecil dan terpisah jauh dari Allah, kita akan dengan mudah memuji dan memuliakan Dia. Memuji seseorang artinya mengakui bahwa orang itu berbeda dengan kita. Memuji Allah artinya mengakui bahwa Allah berbeda jauh lebih agung dari kita ciptaan-Nya yang kecil ini.
Alasan ke-2. Karena Allah telah berbuat baik kepada kita.
Mazmur 103:2, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Persoalannya adalah manusia yang berdosa selalu ingin melakukan apa yang baik menurut perspektif dirinya sendiri. Pada waktu Hawa dicobai oleh ular, yang menarik bukanlah buahnya, melainkan tawaran ular yang menyatakan bahwa setelah makan Hawa akan dapat melihat mana yang baik mana yang tidak baik. Hawa makan dengan harapan ia bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Kenapa orang Kristen sering juga salah menilai ketika hal yang kurang menguntungkan terjadi langsung mengambil keputusan bahwa hal itu sebagai hal yang buruk, padahal belum tentu. Kehilangan harta apakah hal baik atau hal tidak baik? Ada seorang yang kehilangan rumah karena kebakaran besar, namun masih bisa berkata, ”Puji Tuhan”. Ia bisa menilai, kehilangan harta tidak masalah ketika semua keluarga selamat.
Segala kebaikan Allah yang disebut oleh Daud: Mengampuni segala kesalahan kita. Yang paling kita butuhkan tiap hari adalah pengampunan. Kebaikan Allah selanjutnya: Menyembuhkan segala penyakit. Ada penyakit yang tidak disebabkan karena dosa: Misalnya Ayub dan orang yang buta sejak lahir. Daud tidak berjanji bahwa Allah akan menyembuhkan segala penyakit tapi yang dimaksud adalah penyakit yang disebabkan oleh dosa. Ayat ini merupakan pengalaman Daud secara pribadi bersama Tuhan. Kita pasti lebih sering sehat daripada sakit, cuma kita seringkali mengeluh pada waktu sakit, tapi pada waktu sehat kita lupa untuk bersyukur pada Tuhan. Ayat selanjutnya, “Dia yang menebus hidupmu dari lubang kubur ....” Daud pernah mengalami sakit yang sangat parah dan Tuhan menyembuhkannya. Mungkin kita pernah menghadapi momen tertentu dimana kita hampir mati tapi Tuhan selamatkan. Ayat selanjutnya, “... yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.” Allah tetap setia meskipun umatnya sering tidak setia, ia menjaga perjanjiannya pada kita. “Rahmat” sama dengan kata “rahim”, kata ini dipakai untuk orang yang tidak layak tapi diberi. Allah mengasihi dan memperlakukan kita seperti bapa kepada anaknya. Ini merupakan alasan yang cukup untuk kita dapat bersyukur pada-Nya. Ayat terakhir, “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” Yang menjadi baru seperti rajawali adalah masa muda kita bukan masa tua kita, kepuasan dari Tuhan akan membuat kita mampu bersukacita dan hidup dengan dinamis terus menerus dalam Tuhan.
Tiga persoalan manusia yang tidak dapat diatasi oleh manusia: kejahatan, penyakit dan kematian, ketidakpuasan. Kejahatan tidak bisa diselesaikan meski sistem dan pengawasan diperketat terus menerus. Seberapa hebat pun dunia teknologi tidak bisa menghindarkan manusia dari kematian. Adam dan Hawa berbuat dosa karena mereka ingin jadi seperti Allah, tidak puas hanya menjadi gambaran Allah. Dan ketiganya sudah dikalahkan oleh Tuhan di atas kayu salib, dan di surga kita akan bebas dari tiga persoalan: kejahatan, kematian, dan ketidakpuasan. Itulah yang menjadi alasan kita untuk dapat terus berkata, “Bless the Lord, o my soul.”
 

(Disarikan oleh Lily Ekawati)

Mazmur 103

 

103:1   Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!

103:2
 
Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

103:3
 
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,

103:4
 
Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,

103:5
 
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.

103:6
 
TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.

103:7
 
Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel.

103:8
 
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

103:9
 
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

103:10
 
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

103:11
 
tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

103:12
 
sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

103:13
 
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

103:14
 
Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

103:15
 
Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;

103:16
 
apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.

103:17
 
Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,

103:18
 
bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.

103:19
 
TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu.

103:20
 
Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.

103:21
 
Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya.

103:22
 
Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017