• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
GI. Andry Setiawan

Minggu, 10 September 2017

Kitab Mazmur dibagi ke dalam lima jilid. Mazmur 95 ini termasuk dalam kategori jilid keempat, dimana bagian ini berfokus kepada liturgi atau hal-hal yang berisifat ibadah pada saat bangsa Israel memberikan puji-pujian di Bait Allah pada masa itu. Khotbah hari ini berbicara tentang bagaimana seharusnya kita orang Kristen menyembah Allah.
Allah memanggil kita sebagai umat-Nya untuk datang menyembah Dia. Dan Mazmur 95:1–11 menunjukkan tiga cara bagaimana kita seharusnya menyembah Tuhan:
  1. Dengan bersorak-sorai bagi Allah (1–2).

    Dalam konteks Mazmur, ajakan bersorak-sorai ini biasanya dilakukan oleh suku Lewi. Ada arak-arakan yang besar ketika sedang menyembah Allah dan mereka melakukannya dengan gayanya sendiri yang khas. Mengapa mereka menyembah Tuhan dengan cara tersebut? Alasannya karena Tuhan adalah Allah yang besar dan Raja yang besar mengatasi segala allah (3). Kebesaran-Nya nyata melalui penciptaan alam semesta. Tiada pencipta yang seperti Dia atau sebanding dengan Dia.

    Pada saat itu—sama seperti kita—umat Israel hidup di tengah-tengah komunitas yang tidak mengenal Allah. Dimana pada saat itu ada suatu sistem kepercayaan bahwa masing-masing bangsa memiliki sebutan dewa yang berbeda, termasuk dipengaruhi oleh letak geografisnya (barat, utara, timur, selatan), dimana dewa itu berada (langit, tanah, lautan), peran dari dewa itu (peperangan, pekerjaan, kemakmuran). Namun Allah Israel adalah Allah yang berbeda dari dewa-dewa tersebut. Dia adalah satu-satunya Allah, tiada duanya, dan tidak ada yang sama dengan-Nya. Allah itu Esa.

    Perlu ditekankan bahwa di dalam Kekristenan tidak ada Allah yang lain (politeisme). Namun sayangnya, masih ada orang Kristen yang menganut paham henoteisme (salah satu cabang dari politeisme), yang mengakui adanya banyak Allah, tetapi hanya satu yang paling agung, berkuasa, dan hebat dari antara dewa-dewa lain. Contoh: Di dalam mitologi dewa Yunani, dewa yang paling berkuasa adalah Zeus, namun tetap ada dewa-dewa lain yang diakui selain Zeus. Yesus bukanlah hanya Allah yang paling berkuasa, namun Dia juga adalah satu-satunya Tuhan. Jika kita sadar betul bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka dalam keadaan tubuh yang letih lesu sekalipun, seharusnya kita tetap memiliki hati yang bersorak-sorai bagi-Nya.
  2. Dengan bersujud di hadapan Tuhan (6).

    Maksud dari sikap ini adalah orang-orang Israel mengakui kebesaran Allah. Allah yang mereka kenal dan yang berelasi dengan mereka adalah Allah yang besar dan ajaib. Bersujud di sini juga diekspresikan dengan sambil bergetar. Dapat diibaratkan dengan seekor anjing yang bersujud siap mendengar instruksi dari tuannya. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Kita sadar bahwa kita perlu menyandarkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Kita juga perlu merendahkan hati dan merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta karena kita tahu bahwa kita sebenarnya tidak layak namun telah dilayakkan.

    Dalam bahasa Yunani, kata “beribadah” itu artinya bersikap menundukkan diri atas dasar rasa kagum akan kebesaran Tuhan. Bagaikan domba yang dituntun oleh seorang gembala (7). Dia mengenal suara kita dan kita juga mengenal suara-Nya. Jadi, di dalam penyembahan ini juga terdapat suatu relasi yang dekat. Umat Israel sering memakai dua istilah ketika menyebut Allah. Elohim yang berarti Allah yang maha kuasa; dan Yahwe Allah yang dekat dengan mereka, Allah yang mengadakan perjanjian dengan mereka, dan Allah yang menebus mereka. Jadi bukan hanya Allah yang besar, tetapi dia juga mau menjadi sahabat umat-Nya.
  3. Dengan hati yang lembut (7b-8).

    Ketika mendengar suara Tuhan, maka jangan keraskan hati kita. Mari kita responi sekarang dengan sikap taat. Dalam ayat ini ada sebuah sejarah: Dulu umat Israel pernah bertengkar dengan Musa sebagai perwakilan Tuhan. Ini merupakan kenangan pahit yang diakibatkan oleh umat Israel mengeraskan hati mereka. Mereka tidak takut kepada Allah. Mereka tidak taat akan perkataan Tuhan. Kekerasan hati mereka tidak hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Sehingga itu membuat Tuhan jemu (berduka) pada angkatan itu. Angkatan yang dibawa keluar dari Mesir. Padahal mereka sudah melihat perbuatan Tuhan, tapi masih saja menolak untuk taat kepada Tuhan; tidak mau masuk ke tanah Kanaan, maunya balik ke Mesir. Ini menjadi kedukaan besar bagi Allah.

    Kekerasan hati menghalangi kita untuk bersekutu dengan Allah. Ciri-ciri orang berkeras hati adalah mereka sudah tahu apa yang Tuhan kehendaki, tapi tidak dilakukan. Dari hati yang keras, lama-lama jadi tebal, kalau sudah tebal akan jadi kebal, lalu sudah tidak bisa menerima masukan, kemudian sudah tidak mau mendengar firman Tuhan, dan akibatnya akan menerima hukuman kekal.
Biarlah sekali lagi kita diingatkan bahwa Tuhan layak disembah. Hanya ada satu Tuhan yang kita kenal dalam nama Yesus Kristus dan tidak ada allah-allah lain. Dari situ mari kita hidup menjadi penyembah-penyembah Allah yang sejati. Dan penyembahan bukan bagian dari hidup kita, melainkan penyembahan itu adalah hidup kita sendiri.
 

(Disarikan oleh Nico Tanles Tjhin)

Mazmur 95:1–11

 

95:1   Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2
 
Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3
 
Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4
 
Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5
 
Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6
 
Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

95:7
 
Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

95:8
 
Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

95:9
 
pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

95:10
 
Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: "Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku."

95:11
 
Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: "Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017