• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Karyanto Gunawan
(Narasumber Rekaman Khotbah)

Pembicara:
GI. Edy Gurning
(Narasumber Ringkasan)

Minggu, 27 Agustus 2017

Profil tokoh Stefanus yang dicatat oleh Alkitab adalah:
  • Seorang Yahudi berbahasa Yunani
  • Penuh iman dan Roh Kudus (pasal 6:5)
  • Penuh kasih karunia dan kuasa (pasal 6:8)
  • Penuh hikmat dan Roh Kudus (pasal 6:10)
Arti kata “Stefanus” sendiri adalah “mahkota”.
Semua penggambaran profil itu oleh penulis kitab tersebut—yaitu Lukas—sangat menonjolkan hal-hal rohaniah dan bukan jasmaniah. Hal ini menunjukkan bahwa Alkitab sangat mementingkan untuk mengekspos atribut iman dan kerohanian yang dimiliki seseorang ketimbang soal-soal status sosial, kedudukan, kekayaan, kepandaian, dan sebagainya.
Bagi Allah, seseorang tidak dinilai dari segala atribut jasmaninya, melainkan apakah orang tersebut beriman atau tidak. Iman kepada Allah merupakan hal terpenting dan iman memerlukan adanya perbuatan atau ekspresi.
Ekspresi iman Stefanus adalah:
  1. Iman Stefanus tampak dalam pelayanannya kepada para janda (pasal 6:1).

    Para janda mewakili sesama manusia. Stefanus melayani sesama manusia dengan tulus. Pelayanan harusnya tidak dibatasi oleh tembok gereja. Di luar gereja pun, orang Kristen perlu melakukan pelayanan sebagai manifestasi imannya.

    Apakah kita adalah seorang ibu rumah tangga, pejabat, politisi, pekerja seni, karyawan, pengusaha, atau apa pun, bahkan seorang demonstran pun bisa memanifestasikan imannya dalam perjuangannya menuntut keadilan dan ditegakkannya kebenaran.

    Stefanus melayani para janda. Seorang janda mewakili orang-orang kecil (rakyat biasa) yang sering terabaikan. Dunia memang selalu mengabaikan mereka yang kecil dan lemah, tetapi Stefanus melayani mereka.

    Di zaman ini, contoh figur pejuang dan pembela orang kecil itu misalkan Wiji Thukul, seorang yang memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dari penindasan penguasa di seputaran tahun 1996–1998-an. Karena perjuangannya, ia kemudian lenyap—atau lebih tepatnya dilenyapkan. Hingga saat ini, ia tak pernah ditemukan.

    Contoh yang lain adalah Wendell Geary, seorang dokter yang melupakan kehidupan enak dan nyaman karena memilih pergi ke daerah terpencil di Kalimantan Barat. Bersama istrinya, ia mendirikan RS. Bethesda di kota kecil yang bernama Serukam. Ia melayani orang sakit, dan mendidik orang-orang di sana untuk menolong yang sakit.
  2. Iman Stefanus tampak dalam doanya (pasal 7:60).

    Stefanus berdoa bagi para pembencinya seperti yang Yesus lakukan di atas kayu salib. Stefanus tidak memiliki dendam walaupun ia dianiaya. Bahkan, ketika batu-batu merajamnya dan sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, ia berdoa memohonkan pengampunan bagi mereka yang melontari batu.

    Iman yang diberikan oleh Roh Kudus mendorong kita untuk mengasihi orang lain dengan penuh keberanian.

    Contoh sosok yang melakukan espresi iman seperti ini adalah Ahok (Basuki Tjahaya Purnama). Ia mendoakan mereka yang membencinya dari balik penjara. Ia percaya bahwa Gusti Ora Sare ‘Allah Tidak Tidur’ dan akan mengerjakan semuanya baginya.

    Orang-orang yang memiliki iman seperti itu sebenarnya tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna, tetapi iman itu telah menggelisahkan mereka untuk berbuat sesuatu bagi orang lain dengan keberanian menerima risiko.
  3. Iman Stefanus tampak dalam kematiannya (pasal 8:1a).

    Karena imannya, Stefanus membela Kristus. Alkitab mencatat bahwa martir pertama justru adalah Stefanus, bukan rasul terpilih. Kematian Stefanus didahului dengan penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari sebuah perjalanan iman.

    Contoh dari hal ini adalah John Sung, seorang penginjil dari Tiongkok yang memenuhi panggilan Allah. Ia sebelumnya sekolah di Amerika Serikat dan mendapat gelar Ph.D, tetapi Allah kemudian memanggilnya untuk masuk ke sekolah teologi. Di sekolah teologi itu ia justru mengalami sebuah transformasi sehingga orang-orang yang mengenalnya menganggapnya gila dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.

    Di rumah sakit jiwa ia membawa Alkitab dan selama enam bulan mendekam di dalamnya, ia terus-menerus membaca Alkitab dan tidak bisa berhenti untuk membaca. Di kemudian hari ia mengatakan bahwa penjara itu adalah sekolah teologi yang paling bermakna baginya. Setelah ia dibebaskan, ia memutuskan pulang ke Tiongkok untuk melayani orang-orang sebangsanya. Di dalam perjalanan kapalnya, ia membuang semua ijazah dan sertifikat akademisnya ke laut.

    Pada tahun 1935–1939, John Sung melawat ke Indonesia dan mengadakan kebangunan rohani serta mempertobatkan ribuan orang. Tubuhnya yang ringkih dan sakit-sakitan tak mampu menahannya untuk tidak berkhotbah. Ketika sakitnya semakin manjadi-jadi, ia bahkan harus berkhotbah dalam posisi duduk untuk menahan rasa sakit. Tapi ia terus bicara menyampaikan Injil. Akhirnya ia menyerah di usianya yang ke-42 tahun. Masih muda, penuh semangat, dan tak bisa dihentikan untuk mengabarkan Injil. Ia dijuluki sebagai “Obor Asia” karena api yang terus berkobar di dalam dadanya untuk melayani.
Dari tiga espresi iman Stefanus di atas dan tokoh-tokoh yang menjadi contoh, kita melihat bahwa iman berbanding lurus dengan kesetiaan. Semakin besar iman, semakin setialah seseorang. Mereka tak bisa dibungkam dan dihalangi oleh apa pun, sekalipun oleh risiko terburuk, yaitu kematian.
 

(Disarikan oleh Titus Jonathan)

Kisah Para Rasul 6:1–7

 

6:1   Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

6:2
 
Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.

6:3
 
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,

6:4
 
dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."

6:5
 
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.

6:6
 
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.

6:7
 
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

 

Kisah Para Rasul 7:54–60

7:54   Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

7:55
 
Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

7:56
 
Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."

7:57
 
Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.

7:58
 
Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

7:59
 
Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku."

7:60
 
Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

 


Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017