• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Joshua Lie

Minggu, 6 Agustus 2017

Kedua nas di atas menggambarkan panggilan Tuhan atas Musa dan Paulus. Mereka sama-sama menerima panggilan pelayanan bagi Tuhan pada zamannya, dan mereka sama-sama menghadapi tantangan dalam pelayanan. Musa menghadapi Firaun dan keperkasaan Mesir, Paulus menghadapi tantangan dari orang-orang bukan Yahudi. Ladang pelayanan mereka adalah bangsa-bangsa yang merasa diri sebagai kaum yang gagah perkasa, dan tidak memerlukan Injil.
Paulus menghadapi tantangan dari para filsuf yang menantang Injil dengan pemikiran-pemikiran yang dahsyat yang mempengaruhi zaman. Musa menghadapi Firaun yang sangat maju, yang telah berhasil membangun piramida-piramida besar. Jadi baik Musa maupun Paulus sama-sama menghadapi tantangan zaman dan keperkasaan manusia.
Dalam 2 Korintus 4:1–2, Paulus mengatakan, ”Kami menerima pelayanan ini.” Komitmen terhadap kalimat itu diikuti dengan kesediaannya untuk menghadapi segala tantangan dan kesulitan dalam pelayanan. Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, kedua anaknya mewakili sejarah keberadaban manusia. Kain adalah petani (terjemahan dalam bahasa Ibrani berarti the servant of the ground)—dia hidup dengan mengandalkan tanah. Para petani merupakan gambaran orang yang hanya bisa menanti dari tanah. Paling-paling dia hanya bisa merawat tanah, tetapi dia tetap akan mengandalkan cuaca dan dinamika alam, tidak bisa lebih lagi.
Habil adalah peternak; di sini dia belajar me-manage, dia harus me-leading, memimpin domba-dombanya; maka mulailah dibangun suatu keperkasaan manusia. Dari keperkasaan untuk menaklukkan bumi, yaitu menaklukkan tanah, Habil naik satu tingkat; dari tadinya Kain hanya melihat dari jauh, sekarang Kain harus mengontrol, dan me-leading. Gembala tidak boleh tidak tahu arah mau ke mana dia akan menggiring ternaknya. Keperkasaan manusia sudah bertambah, ia bisa mengontrol; tetapi Mesir menghina gembala sebab mereka mampu lebih lagi. Waktu gembala-gembala Israel masuk ke Mesir, mereka ditaruh di Gosyen tempat yang kurang baik, yang hanya untuk manusia kelas paling rendah.
Mesir merasa diri lebih tinggi karena mampu membangun piramida. Mereka menemukan bagaimana membuat ter menyusun batu-batu untuk membangun bangunan yang megah. Mereka tidak peduli bagaimana menanam, mereka tidak peduli bagaimana memelihara ternak; mereka menyusun tentara-tentara dan kereta-kereta kuda yang besar, menunjukkan keperkasaan manusia yang paling tinggi. Pada zamannya, Mesir mewakili keperkasaan, kekuatan, dan kejayaan manusia.
Musa yang sudah empat puluh tahun hidup sebagai anak angkat Putri Firaun, mengerti benar keperkasaan Firaun dan kekuatan Mesir. Ketika Tuhan memanggil dia untuk melayani orang Israel di Mesir, Musa tidak mau pergi. Dia sudah empat puluh tahun berada di padang menggembalakan domba-domba, matanya hanya melihat kesunyian dan kesepian, sehingga dia tawar hati, tidak sanggup lagi melihat kekuasaan dan keperkasaan Mesir. Tetapi Tuhan bersikeras dan tidak membiarkan alasan-alasan Musa untuk menghalangi Dia. Maka Musa hanya meminta satu hal, “Show Your glory, Lord,” biarlah mataku melihat keperkasaan-Mu.
Apakah Tuhan memberikan apa yang Musa minta? Apakah itu yang benar-benar diperlukan oleh Musa? Apakah tantangan dari keperkasaan manusia harus ditandingi dengan munculnya keperkasaan Allah? Dalam Keluaran 33:18–19, Tuhan hanya melewatkan kegemilangan-Nya, dan menyerukan nama TUHAN. Siapakah nama TUHAN itu? Dikatakan bahwa nama-Nya adalah kasih karunia dan belas kasihan. Apakah yang diperlukan untuk menghadapi Firaun dan Mesir? Yang diperlukan adalah belas kasihan, bukan kekuatan yang lebih perkasa
Apakah yang diperlukan oleh gereja? Ketika gereja menghadapi kesulitan dan tantangan yang berupa keperkasaan manusia, ancaman-ancaman dari manusia berdosa; apakah gereja seperti Musa, matanya sudah tidak bisa melihat, dan menjadi kecut?
Di dalam 2 Korintus 4:1 Paulus mengatakan, “Oleh Kemurahan Allah, kami telah menerima pelayanan ini, karena itu kami tidak tawar hati.”
Gereja tidak akan pernah lepas dari tantangan zaman yang sebenarnya semu dan kosong. Di Toronto, ada peraturan bahwa orang tua tidak boleh mempengaruhi anaknya supaya tidak setuju terhadap LGBT, apabila itu terjadi maka polisi berhak untuk memindahkan anaknya kepada orang tua yang setuju. Di dunia Barat tantangan sekularisme sangat kuat.
Apakah kita perlu minta kepada Tuhan kekuatan, kuasa, dan kegemilangan yang lebih besar untuk menghadapinya? Tidak. Karena yang sebenarnya mereka butuhkan bukan itu. Mereka memerlukan belas kasihan. Kalau suamimu galak, kasar; kalau anak-anak bandel dan melawan; sebenarnya yang mereka perlukan adalah belas kasihan. Mereka tidak sanggup mengontrol dirinya sehingga hanyut oleh dosa.
Jika engkau mempunyai masalah, berapa besar pun itu; apakah masalahmu lebih besar daripada Tuhan Allah? Bukankah Tuhan Allah lebih besar daripada masalahmu? Segala tantangan manusia di hadapan Tuhan tidak ada apa-apanya. Jadi kita jangan tawar hati dan putus asa; sebab jika kita putus asa, sebenarnya kita sudah mempermainkan firman Tuhan.
Bahkan terhadap Musa yang sudah begitu akrab dengan Tuhan menegaskan nama-Nya (Keluaran 33:19), supaya Musa tetap menghormati Tuhan. Kita pun harus senantiasa ingat dan hormat ketika menyanyikan pujian kepada Tuhan.
Paulus dalam ayat berikutnya, mengatakan bahwa dia siap diuji, dan dengan hati nurani yang murni terbuka di hadapan Allah. Kenapa dia berani katakan demikian? Kuncinya adalah karena dia menerima pelayanan ini oleh kemurahan Allah—by the mercy of God. Paulus dan Musa tidak sanggup menjalankan pelayanan mereka tanpa belas kasihan dan kemurahan Allah.
Di dalam aturan perang pun harus ada belas kasihan; seperti tidak boleh menyerang rumah sakit, wanita, dan anak-anak. Manusia tidak dapat hidup tanpa belas kasihan dan kemurahan manusia lain, apalagi tanpa belas kasihan Allah. Jadi gereja dipanggil untuk memancarkan kemurahan dan belas kasihan Allah.
 

(Disarikan oleh Elasa Noviani)

2 Korintus 4:1–2

4:1   Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

4:2
 
Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

 

Keluaran 33:18–19

33:18   Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."

33:19
 
Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017