• Hubungi kami 021 538 2274
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Ev. Luke Eka Putra

Minggu, 12 Juli 2017

Untuk membahas alergi terhadap agama, ada tiga pertanyaan yang perlu direnungkan:
  1. Apakah memang ada orang yang alergi atau anti terhadap agama?
  2. Apa sebabnya? Kenapa di dalam dunia ciptaan Tuhan ada orang yang anti terhadap agama?
  3. Bagaimana sikap kita dan bagaimana merespons orang-orang tersebut? Kita tidak bisa kita menutup mata, sebab mungkin orang-orang itu berada di sekitar kita atau bahkan orang-orang yang sangat dekat dengan kita.
Ada dua poin yang perlu kita tinjau terlebih dahulu:
  1. Apakah itu agama?

    Menurut Pendeta Stephen Tong, agama tidak bisa dilepaskan dari iman. Kalau dipertanyakan lebih lanjut, “Apakah iman itu? Dan kita beriman kepada siapa?” Beriman artinya adalah menaruh kepercayaan kita kepada suatu oknum. Siapakah itu? Pada kenyataan dalam kehidupan ini—dalam konteks kerohanian—kita tidak bisa meletakkan iman kepercayaan kita kepada manusia,. Kenapa demikian? Sebab kalau kita menaruh kepercayaan kita kepada manusia, maka dipastikan bahwa hasilnya adalah ‘PHP’ (Pemberi Harapan Palsu). Jadi kalau beriman kepada manusia, maka kita berarti percaya pada suatu harapan yang palsu.

    Alkitab mengajar kita dalam 2 Timotius 1:12. Dikatakan, “… aku tidak malu karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Kata “yang telah dipercayakan-Nya” ada yang menafsirkannya sebagai “Injil” ada juga yang menafsirkannya sebagai “panggilan-Nya”. Yang jelas—kita harus percaya—ketika iman dikaitkan dengan kepercayaan kepada siapa, maka jawabannya hanya satu. Kepercayaan kita haruslah hanya kepada Tuhan saja, dan tidak bisa kepada yang lain.

    Kesimpulannya: Agama adalah iman kepercayaan, dan oknum yang dipercayai haruslah hanya Tuhan.
  2. Manusia.

    Manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang bisa beragama Kenapa? Jawabannya adalah karena manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Inilah yang menjadi fondasi supaya manusia bisa beragama. Ciptaan yang lain tidak bisa beragama. Allah telah menanamkan bibit agama di dalam hati nurani manusia, karena kita diciptakan menurut peta dan teladan Allah.

    Tetapi kalau setiap manusia mempunyai bibit dan punya sifat agama, mengapa sampai ada orang yang alergi terhadap agama? Penyebabnya dapat kita baca dari Roma 3:10–12 Dalam ayat 10 dan 11, dikatakan tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada yang berakal budi, seorang pun tidak. Di ayat ke-12 disebutkan bahwa semuanya sudah menyeleweng. Jadi kita melihat gambaran dari manusia yang sudah jatuh di dalam dosa. Semua manusia yang jatuh dalam dosa sejak kitab Kejadian ini tidak ada yang mencari Tuhan, seorang pun tidak. Memang tidak ada manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhanlah yang mencari manusia.

    Manusia yang sudah jatuh dalam dosa ini, akibatnya menjadi:
    • Terpisah dari Allah, dan benar-benar terputus hubungannya dengan Tuhan.
    • Manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan, mereka tidak merasa perlu beriman kepada Allah, sehingga mereka tidak membutuhkan agama.
    Jadi, kalau agama itu berkaitan dengan iman, dan iman itu adalah kepercayaan yang harus dan hanya kepada Tuhan, sedangkan orang berdosa merasa tidak butuh Tuhan, maka tidak heran bahwa ada orang-orang yang menolak agama (anti dan alergi terhadap agama).

    Lalu bagaimana kita harus menanggapi orang-orang seperti ini? Apakah kita boleh berdiam diri saja dan tidak peduli? Tentu saja tidak bisa!!! Sebagai anak Tuhan, kita harus memikirkan, dan menanggapi mereka ini.

    Ada dua macam respons dasar yang Alkitab ajarkan kepada kita:
    1. Dalam Roma 10:14–15, diajarkan bahwa kita harus rela menjadi laskar Kristus. Kita harus mau dipakai oleh Tuhan, diutus untuk memberitakan injil Kristus kepada mereka. Sebab kalau tidak ada yang rela dan mau diutus, bagaimanakah mereka bisa mendengar? Jadi ini adalah cara menanggapi panggilan penginjilan dengan memberitakannya secara langsung. Seorang dokter yang bernama dr Herry Gerbert menyerahkan diri untuk mengabarkan Injil di Gambia, sebuah daerah konflik di Afrika. di Gambia. Sebenarnya dia berasal dari keluarga dokter yang bisa hidup mapan di Amerika. Tetapi setelah percaya Kristus melalui Alkitab yang diberikan oleh seorang wanita—yang sekarang menjadi istrinya—dia terpanggil dari ayat dalam Galatia 2:20. Keluarga ini berangkat ke Afrika dan memberitakan Injil di sana dimana masuk dengan visa dokter lebih mudah daripada sebagai penginjil. Di sana dia belajar dan fasih berbahasa daerah supaya bisa bergaul dengan penduduk asli, dan memperkenalkan Kristus kepada mereka.
    2. Cara yang kedua adalah melalui persekutuan.

      Dalam Kisah Para Rasul 2:41–47, jemaat mula-mula yang berjumlah lebih dari tiga ribu orang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan hidup dalam persekutuan. Tentunya tidak mudah bersatu dalam persekutuan dengan begitu banyak perbedaan, karena tiga ribu jemaat tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Di kampus atau di gereja, dimana banyak orang berasal dari daerah yang berbeda-beda pun bukan merupakan kondisi yang mudah untuk menyesuaikan diri dan bersatu. Tetapi dalam ayat di atas, sebelum jemaat sampai ke persekutuan, dikatakan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Jadi rupanya itulah yang menyatukan mereka. Hidup dalam persekutuan sangatlah penting.

      Ada sebuah kisah mengenai seorang wanita bernama Rosaria Butterfield yang dimenangkan oleh persekutuan. Rosaria adalah seorang profesor yang dulunya sangat pro kepada LGBT. Dia dulunya menjadi seorang lesbian dan tidak percaya kepada Tuhan. Yang menjadi fokus dalam hidupnya adalah dirinya sendiri. Dia berprinsip: Inilah hidupku, milikku, dan semuanya aku jalani untuk diriku. Namun ada seorang pendeta yang bersama dengan keluarganya melayani dia. Pendeta ini bernama Ken, dan dia memperkenalkan Kristus tidak dengan cara yang langsung, tapi melalui fellowship. Pendeta Ken dan keluarganya sama sekali tidak mencemooh Rosaria, mereka tidak berdebat namun dengan tulus menerima hidupnya. Jadi yang dilakukan Pendeta Ken adalah menjalin relasi yang baik, tanpa pengabaran Injil secara langsung.

      Sampai pada suatu hari, Rosaria diundang makan malam di rumahnya yang menjadi kesempatan untuk menyaksikan Kristus. Tetapi Pendeta Ken tidak berbicara tentang Injil, hanya dia memimpin doa sebelum makan, dia berkata, “Ampuni kami sebagai manusia berdosa, dan ajar kami untuk mengasihi sesama kami.”

      Rupanya kata-kata dalam doa tersebut mengguncangkan hati Rosaria. Dia mulai memikirkan tentang Tuhan. Sejak itu ada yang mengamati bahwa hidup Rosaria dari minggu ke minggu mengalami perubahan. Dia datang ke gereja, tetapi tidak masuk ke dalam gereja, dia hanya mendengarkan khotbah Pendeta Ken di luar gereja. Lama kelamaan dia bertobat dan percaya kepada Kristus. Akhirnya Rosaria menikah dengan seorang hamba Tuhan dan melayani di antara lingkungan LGBT.

      Memang dalam kedua respons kita yang dianjurkan di atas, ujung-ujungnya tetap ingin untuk membuat orang bertobat, tetapi dengan dua cara yang berbeda, yaitu secara langsung (oleh dr. Herry Gerbert) dan dengan cara persekutuan (oleh Pendeta Ken).
 

(Disarikan oleh Elasa Noviani)

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

2016: Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M) • 2017: Gereja yang Menjadi dan Menjadikan Murid • 2018: Diperlengkapi sebagai Murid Kristus

Acara Gerejawi