• Hubungi kami! 021 538 2274
  • Email kami! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Pembicara:
Pdt. Joni Sugicahyono

Minggu, 2 April 2017

Abraham adalah salah satu tokoh yang sangat dihormati oleh tiga agama besar dunia: agama Yahudi, Kristen dan Islam. Tetapi khusus bagi bangsa Yahudi, sebutan mereka sebagai anak-anak Abraham sungguh sangat membanggakan.
Pada kitab Kejadian 15, dituliskan ada satu peristiwa yang luar biasa ketika Allah membuat suatu perjanjian (covenant) dengan seorang manusia, yaitu Abraham. Covenant adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh dua orang raja, yaitu antara raja sebagai pihak yang menang dalam peperangan dengan raja yang ditaklukkan (kalah). Perjanjian ini dilakukan dengan cara menyediakan suatu kurban berupa binatang yang disembelih dan dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil kemudian potongan-potongan daging itu diletakkan di suatu tempat. Pihak yang kalah harus berjalan melewati potongan daging tersebut dengan maksud bahwa jika ia melanggar janji, maka tubuhnya akan dipotong-potong seperti binatang kurban tersebut.
Pada covenant yang dibuat antara Allah dengan Abraham itu, ternyata Allah sendiri yang berjalan di antara potongan daging kurban itu. Inilah yang luar biasa, sebab dengan melakukan hal itu berarti Allah mendudukkan diri-Nya sebagai pihak yang harus memegang janji dengan segala konsekuensinya. Hal ini merupakan anugerah yang tak ternilai dari Allah kepada Abraham. Allah ingin menunjukkan komitmen-Nya terhadap janji yang diucapkan-Nya.
Apakah janji Allah kepada Abraham? Bahwa Abraham akan dijadikan sebagai bangsa yang besar, yang akan menduduki tanah mulai dari Mesir sampai Sungai Efrat, yang keturunannya sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut. Janji itu diucapkan oleh Allah pada waktu Abraham dan Sara sudah lanjut usia dan secara lahiriah mustahil bisa memiliki anak.
Terhadap janji Allah itu, Abraham percaya dengan sungguh-sungguh walaupun ia menyadari keadaannya sebagai orang lanjut usia, walaupun janji itu tidak dapat masuk logika. Iman Abraham itu oleh Allah diperhitungkan sebagai kebenaran.
Peristiwa perjanjian (Covenant) antara Allah dengan Abraham itu merupakan gambaran dari Kristus ketika Dia berkomitmen untuk mengorbankan diri-Nya bagi kita orang berdosa. Jika disimpulkan, ada tiga janji Allah kepada Abraham:
  1. Janji tentang keturunan.
  2. Janji tentang kerajaan (Kerajaan Kristus yang kekal).
  3. Janji tentang tanah perjanjian (langit yang baru dan bumi yang baru).
Reputasi Abraham yang seperti itulah yang membuat orang-orang Yahudi sangat memuliakan Abraham dan mereka bangga jika disebut sebagai keturunannya. Tetapi ada satu hal yang ironis, sebab di waktu yang sama orang-orang Yahudi malah berusaha membunuh Yesus. Mengapa? Karena mereka tidak sungguh-sungguh mengerti firman Allah. Yesus berkata; bahwa jika mereka mengenal Abraham, mereka harusnya mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Tetapi mereka tidak mengenal Yesus dan menganggap Yesus sebagai orang yang tidak jelas asal-usulnya.
Hal itu sama dengan keadaan orang Kristen zaman sekarang. Banyak orang Kristen sudah puluhan tahun menjadi Kristen dan rajin beribadah di gereja, tetapi iman mereka tidak bertumbuh karena mereka tidak sungguh-sungguh mengenal firman-Nya. Berbeda dengan orang yang baru menjadi Kristen. Biasanya mereka malah sangat antusias dan rajin untuk belajar dan mengenal firman Allah karena mereka menghargai firman Allah.
Orang-orang Yahudi itu mengaku bahwa mereka adalah keturunan Abraham, tetapi sebenarnya tidak; karena seharusnya yang merupakan keturunan Abraham sejati adalah:
  1. Orang-orang yang bertindak seperti Abraham dahulu bertindak.
  2. Orang-orang yang memiliki iman seperti iman Abraham.
Jadi siapa pun bisa menjadi keturunan Abraham asalkan memenuhi dua hal di atas, bukan berdasarkan keturunan lahiriah, bukan karena tradisi dan budaya.
Pada Ibrani 11:8 disebutkan, “Karena iman, maka Abraham taat ….”
Ketaatan Abraham kepada Allah membuktikan bahwa ia beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, karena semakin seseorang beriman, harusnya ia makin taat kepada Allah. Di zaman ini, pengajaran sesat mengatakan bahwa semakin kita beriman maka semakin Allah akan taat kepada iman kita.
Karena kita beriman, maka tidak bisa tidak Allah akhirnya harusnya taat untuk mengabulkan apa yang kita imani tersebut. Kita harus berhati-hati terhadap ajaran semacam ini.
Roma 4:16–25 mengajarkan bahwa keturunan Abraham sejati adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Kristus, mengerti firman Allah dan melakukannya. Hal inilah yang harus kita contoh jika kita ingin menjadi keturunan Abraham yang sejati.
 

(Disarikan oleh Titus Jonathan)

Yohanes 8:37-47

 

8:37
 
"Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu.

8:38
 
Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu."

8:39
 
Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

8:40
 
Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.

8:41
 
Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah."

8:42
 
Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

8:43
 
Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.

8:44
 
Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

8:45
 
Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.

8:46
 
Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?

8:47
 
Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah."

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M)

Acara Gerejawi

Tema 2017