• Hubungi kami 021 538 2274
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
            

Pembicara:
GI. Chandra Arifin

Minggu, 12 Juni 2016

Tak jarang ketika kita sedang mengendarai mobil dalam sebuah perjalanan, kita menemukan diri kita tersesat karena mengambil arah jalan yang salah, lalu akhirnya tidak sampai pada tujuan. Mungkin kita tidak tahu akan jalan tersebut, tetapi kita malu bertanya dan akhirnya semakin lama semakin menjauh dari tujuan atau bisa juga kita salah membaca petunjuk jalan dan akhirnya tersesat. Bahkan ketika kita sudah tahu akan jalan tersebut, kita tetap bisa salah mengambil jalan, entah karena melamun atau sedang tidak konsentrasi.
Pada kitab 1 Timotius 1:3-11, Paulus mendesak Timotius untuk memperingatkan orang-orang yang tinggal di Efesus untuk lebih peka akan ajaran yang benar dan yang salah, karena dia tahu sudah ada banyak orang yang tersesat. Paulus menekankan bahwa sebuah ajaran haruslah benar dan murni. Jangan sampai mereka disibukkan dengan dongeng atau silsilah yang tiada ujungnya, yang akhirnya hanya menghasilkan persoalan belaka.
Kenyataannya dari dulu sampai sekarang, tidak semua orang yang berbicara di atas mimbar itu membicarakan kebenaran. Sehingga kalau kita tidak mengenal kebenaran yang sejati, kita akan tersesat oleh ajaran yang salah. Dengan memiliki kepekaan ini, kita siap untuk mendengar dan menilai ajaran yang disampaikan di atas mimbar-mimbar gereja.
Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa baik jemaat di Efesus maupun kita sebagai pengikut Kristus bisa gagal mencapai tujuan? Terdapat empat hal yang bisa menjadi jawabannya.
1Karena kita terpengaruh oleh ajaran-ajaran lain. Ada orang-orang tertentu mengajar dengan memakai nama Tuhan namun isi dari ajaran tersebut berlawanan dengan firman Tuhan. Bahkan seringkali mereka tidak tahu apa yang mereka ajarkan. Dan kita sebagai pendengar, seringkali berpikir bahwa kita sudah berada di jalan yang benar, padahal tidak.

Misal, ajaran dunia meyakinkan kita bahwa apapun yang kita inginkan bisa kita capai asalkan kita mau bekerja keras mengupayakannya. Semua berpusat pada kemampuan diri. Padahal pekerjaan dan pencapaian kita tidak pernah terlepas dari campur tangan Tuhan. Ajaran ini membuat kita mengenyampingkan Tuhan, menaruh-Nya di pojok ruangan. Kita memakai cara kita sendiri untuk mencapai tujuan dan akhirnya kita tidak sadar bahwa kita sedang tersesat, semakin lama semakin menjauh dari tujuan.
2Kita sibuk dengan ajaran tau dongeng yang tidak penting. Waktu 24 jam yang kita miliki harus bisa kita manfaatkan untuk mendengar hal-hal yang benar, bukan yang tidak penting. Misalkan saja, chatting group di media sosial yang kita miliki selalu berbunyi setiap saat, intensitas pesan yang masuk begitu tinggi, sehingga cenderung membuat kita sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting.

Jemaat di Efesus diingatkan oleh Paulus agar terus memfokuskan hidup mereka kepada keselamatan dan ketertiban, bukan menghabiskan waktu yang ada untuk hal yang sia-sia. Apa yang kita pelajari sebagai pelajar; apa yang kita kerjakan sebagai karyawan atau wirausahawan, kita harus dapat melihat di mana kaitannya dengan ajaran Tuhan. Selalu terus mengevaluasi diri apakah hidup kita ini untuk diri sendiri atau untuk Tuhan?
3Seperti jemaat di Efesus, kasih yang kita miliki tidaklah murni. Hati, iman, dan kesadaran jemaat sudah diselewengkan. Paulus menekankan bahwa hidup di dalam kasih bukan hanya sekedar perasaan belaka. Love is verb, kasih adalah tindakan. Namun ketika Allah memerintahkan orang-orang yang sudah Ia selamatkan untuk melakukan tindakan kasih, maka kasih tidak cukup berujung pada tindakan. Tindakan kasih harus dilandaskan dengan hati nurani yang murni. Allah tidak hanya melihat perbuatan baik kita, pelayanan kita, bantuan yang kita berikan kepada orang lain, melainkan Allah melihat jauh ke dalam lubuk hati kita.
4Kita melakukan hukum Taurat tidak dengan keinsafan. Seringkali kita berpikir bahwa kita sudah rajin beribadah, banyak pelayanan, melakukan perbuatan baik dan hukum-hukum Taurat lainnya, tetapi kita tidak mengakui bahwa diri kita berdosa dan merasa tidak butuh pengampunan dari Tuhan. Misalkan saja, pada saat mendengarkan khotbah di gereja, kita sering merasa bahwa pesan itu untuk si A atau si B, bukan untuk kita atau bahkan sekalipun tiap Minggu kita sudah mengaku dosa di gereja, tetapi pada kenyataannya kita tidak merasa Tuhanlah yang memiliki hidup kita, sehingga kita melakukan Taurat tanpa keinsafan. Di Alkitab terdapat cerita tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang sama-sama beribadah, tetapi orang Farisi itu ditolak Tuhan, sedangkan si pemungut cukai diakui doanya oleh Tuhan karena dia berseru dengan hati yang bertobat.
Mengapa ajaran yang benar itu penting? Ajaran yang benar adalah kompas atau rasi bintang bagi kita dalam menaungi laut yang begitu luas agar tidak tersesat. Ajaran yang benar merupakan pelita bagi kita ketika berjalan jalan yang gelap (2 Timotius 3:16).
 

(Disarikan oleh Nico Tanles Tjhin)

1 Timotius 1:3-11

1:3    Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain

1:4
 
ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.

1:5
 
Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

1:6
 
Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.

1:7
 
Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.

1:8
 
Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,

1:9
 
yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,

1:10
 
bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat

1:11
 
yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

2016: Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M) • 2017: Gereja yang Menjadi dan Menjadikan Murid • 2018: Diperlengkapi sebagai Murid Kristus

Acara Gerejawi