• Hubungi kami 021 538 2274
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
            

Pembicara:
Pdt. Agung Gunawan

Minggu, 5 Juni 2016

Berbicara tentang keluarga Kristen, maka tidak bisa tidak harus memiliki kasih. Karena Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah Allah Yang Mahakasih. Maka kalau kita mengaku sebagai keluarga Kristen, kasih itu harus ada di dalam kehidupan keluarga kita.
Salah satu wujud nyata daripada kasih bukan hanya sekadar memberi, bukan hanya sekadar memperhatikan, tetapi lebih daripada itu adalah kerelaan untuk saling mengampuni. Kasih harus nyata di dalam pengampunan. Forgiveness is the final form of love. Mungkin kita katakan, “Aku sudah berbuat ini dan itu,” kita mampu menyebutkan segala hal yang kita lakukan yang mengatasnamakan ‘kasih’, tetapi apabila kita tidak mau mengampuni maka kita belum sungguh-sungguh mempunyai kasih.
Kita melihat banyak pasangan dan keluarga yang hancur, karena mereka menyimpan kebencian dan dendam. Hari-hari ini tidak hanya suami-suami yang berselingkuh, tetapi istri-istri juga. Delapan puluh persen perceraian, disebabkan karena pasangan suami istri tidak mau saling mengampuni.
Memang mengampuni itu tidak gampang, apalagi mengampuni orang yang dekat dengan kita. Ketika orang yang menyakiti adalah orang yang dekat maka luka yang ditimbulkan biasanya akan sangat dalam, apalagi kalau itu terjadi secara berulang-ulang. Sebab kita mempunyai harapan yang lebih tinggi kepada orang-orang yang dekat, sedangkan kepada orang yang kurang akrab biasanya kita lebih mudah mengampuni karena kita bisa mengabaikan kesalahannya.
Tetapi firman Tuhan katakan bahwa kita harus belajar mengampuni, walaupun tidak mudah. Banyak orang tua yang membenci anaknya karena mereka tidak mau menurut dan suka memberontak, sampai-sampai orang tua mengharapkan kecelakaan anaknya. Hubungan antara orang tua dan anak terputus ketika orang tidak bisa mengampuni anak itu. Sebaliknya banyak juga anak yang sakit hati kepada orang tuanya, karena orang tua memperlakukan anaknya dengan disiplin yang terlalu keras. Ada orang tua yang menghajar anak dengan emosi yang tak terkendali, sehingga menimbulkan luka batin si anak, padahal Alkitab mengatakan bahwa kita memang boleh menghajar anak kita tetapi tidak boleh mengharapkan kematiannya.
Ada anak yang hidup dalam kebencian terhadap orang tuanya karena selalu dibandingkan dengan kakaknya. Orang tua seharusnya tidak membanding-bandingkan anak sebab akan menimbulkan rasa ketakutan, dan anak bertumbuh dengan self-confidence yang buruk.
Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga anaknya tidak diperhatikan dan malah dititipkan kepada orang lain. Hal itu bukannya salah apabila tidak berlebihan, sebab anak-anak butuh kasih sayang dan rasa dimiliki, bukan hanya kebutuhan secara materi. Akibat dari kelalaian orang tua, maka akan timbul kebencian, dendam, kepahitan, dan luka batin di dalam hati anak. Tidaklah mudah untuk melepaskan pengampunan apabila luka batin yang ditimbulkan sudah terlalu dalam.
Mari belajar mengampuni karena itu adalah wujud kasih.
Mengapa harus mengampuni?
1Setiap kita bukanlah manusia yang sempurna, jadi kita juga membutuhkan pengampunan. Siapa di antara kita yang berani berkata bahwa kita tidak pernah berbuat salah? Tentu tidak ada! Kita semua penuh dengan keterbatasan, sehingga kita pun membutuhkan pengampunan dari orang lain, seperti doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita.
2Pengampunan itu adalah perintah Tuhan (seperti ayat nas kita 1 Yohanes 2:7–14), maka ketika kita mau mentaati, yaitu kita mau mengampuni, maka kita sedang mentaati perintah Tuhan dan itu mendatangkan berkat Tuhan. Berkat Tuhan itu bukan hanya berupa materi, tetapi lebih berupa berkat spiritual.
  • Pengampunan menciptakan rekonsiliasi yang membawa kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga (Amsal 10:12). Kita rindu keluarga kita seperti surga, penuh kedamaian, seperti ungkapan “home sweet home” bukan seperti neraka yang penuh pertengkaran dan kebencian.
  • Pengampunan yang merupakan wujud dari pada kasih, yang mendatangkan ketenangan dan kesehatan hidup, seperti dikatakan oleh Amsal 15:17, “Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.” Kalau keluarga ada kebencian maka tidak akan ada ketenangan. Dan stres yang ditimbulkan akan membawa masalah di dalam kesehatan. Sekarang ini banyak suami-suami masih relatif muda sudah terkena stroke, juga istri-istri terkena mag karena stres, banyak yang masih usia anak-anak sudah terkena darah tinggi karena melihat banyak pertengkaran di dalam rumah tangga. Berkat Tuhan itu bukan hanya materi tetapi ketenangan hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang. Buat apa kita mempunyai banyak harta kalau tubuh kita tidak sehat, stres, karena rumah tangga seperti neraka. Pengampunan itu memberi ketenangan. Ada suami-suami yang mengeluh tidak betah tinggal di rumah karena setiap kali bertemu dengan istrinya selalu yang muncul adalah kata-kata yang kasar. Tidak ada kata-kata yang manis dan sedap didengar (Filipi 4:8). Sehingga banyak suami berselingkuh, karena istrinya kasar dan cerewet.
Bagaimana bisa mengampuni?
  1. Menyadari bahwa kita adalah anak-anak terang, dan sudah menjadi milik Kristus.
  2. Menyadari bahwa kita telah diampuni oleh Yesus Kristus. Kalau kita yang begitu jahat sudah menerima pengampunan yang tidak layak kita terima, mengapa kita tidak bisa mengampuni orang lain?
  3. Mengampuni berarti melupakan kepahitan yang ditimbulkan oleh perbuatan dan perkataan orang lain, bukan melupakan pemgalamannya. Jadi memang kita mungkin sulit untuk melupakan peristiwanya, tetapi kita tidak boleh membiarkan dampaknya mempengaruhi kita.
  4. Pengampunan tidak mengubah masa lalu tapi mengubah masa yang akan datang. When you forgive, you don’t change the past, you change the future. Ketika kita mengampuni, kita masuk ke babak baru.
  5. Mengampuni harus tuntas, jangan separuh-separuh.
  6. Pengampunan harus direspons dengan perubahan. Ketika Tuhan Yesus diperhadapkan dengan seorang perempuan yang berzinah, Dia katakan, “Pergilah, dan ingat, jangan berbuat dosa lagi.” Ketika istri, suami, anak, orang tua, menantu, mertua sudah mengampuni; kita harus ingat, “Jangan berbuat dosa lagi.”
Keluarga yang harmonis hanya bisa terjadi jika ada pengampunan.
 

(Disarikan oleh Elasa Noviani)

1 Yohanes 2:7-14

 

2:7
  Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.

2:8
 
Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.

2:9
 
Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.

2:10
 
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.

2:11
 
Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

2:12
 
Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.

2:13
 
Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

2:14
 
Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

2:15
 
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

2:16
 
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

2:17
 
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

2:18
 
Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

2:19
 
Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

2:20
 
Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.

2:21
 
Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

2:22
 
Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.

2:23
 
Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.

2:24
 
Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.

2:25
 
Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

2:26
 
Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.

2:27
 
Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

2:28
 
Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.

2:29
 
Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

2016: Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M) • 2017: Gereja yang Menjadi dan Menjadikan Murid • 2018: Diperlengkapi sebagai Murid Kristus

Acara Gerejawi