• Hubungi kami 021 538 2274
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
            

Pembicara: Pdt. Irwan Hidajat

Rabu, 11 Mei 2016

Satu pertanyaan yang unik yang perlu kita renungkan, yakni, “Kapan terakhir Anda menikmati waktu berkualitas dengan keluarga, kerabat, maupun tetangga Anda?” Pertanyaan ini patut kita renungan kembali karena hari ini kita hidup dalam zaman dimana banyak orang tidak lagi dapat menikmati waktu berkualitasnya. Fenomena manusia pada masa kini adalah letih, stres, dan overload (kelebihan beban).
Fenomena overload (kelebihan beban) telah menjadi satu sindrom yang menjangkiti manusia khususnya masyarakat di kota besar. Pada saat kita berbicara tentang overload, maka yang sedang terjadi adalah sebetulnya manusia tidak hanya sedang bekerja, tetapi terlalu banyak bekerja; bukan hanya sekedar melibatkan diri, tetapi terlibat terlalu jauh; tidak hanya sekedar keletihan, tetapi amat letih; dan akhirnya istirahat hanya merupakan konsep teoritis saja.
Pola kemanusiaan Tuhan Yesus dalam pelayanan dicatat dalam kitab Injil, bahwa Tuhan Yesus adalah manusia sangat sibuk tetapi Ia tidak melayani 24 jam; Ia menyembuhkan banyak penyakit, tetapi tidak semua orang sakit Ia sembuhkan; dan Ia masih ada waktu untuk tidur dan istirahat. Tidak semua yang membutuhkan Ia layani. Richard A. Swenson penulis buku The Overload Syndrome mengatakan, “Tuhan Yesus memahami apa artinya menjadi manusia, bahwa manusia punya batas-batas, sehingga Ia fokus pada hal-hal yang paling penting.”
Manusia punya batas dan karenanya kita akan memilah dan memilih mana yang paling penting di antara yang penting-penting. Kekeliruan manusia adalah tidak sadar bahwa kita punya batas dan tidak mampu memilah dan akhirnya memilih semuanya untuk dikerjakannya. Maka Richard A. Swenson mengatakan, karena itu manusia harus hidup dengan batas (margin). Margin adalah ruang yang terdapat di antara beban-beban kita dan batas-batas kita, dan margin adalah ruang yang terdapat di antara vitalitas kita dan keletihan kita.
Manusia memiliki batas-batas, namun dalam kehidupan selalu ada beban-beban yang melebihi batas. Kita harus tahu bahwa kita memiliki batas tertentu dan itu adalah beban yang harus dijaga, artinya selalu terdapat ruang di antaranya. Yang sering manusia lakukan adalah mendorong batasnya supaya menyamai beban itu. Hidup dengan margin, artinya manusia harus sadar bahwa ada batas, beban, dan harus selalu ada ruang di antaranya. Margin seringkali dianggap sebagai garis batas atau pembatas, tetapi sesungguhnya ketika kita mempunyai ruang antara batas dan beban, di situlah sesungguhnya memberi kepada manusia kebebasan yang sesungguhnya. Kalau tidak; akan terjadi overload dan akan mempengaruhi aspek emosi, fisik, waktu, dan keuangan kita.
Kita harus mengukur hidup dengan margin (batas). Apabila kita memperkecil ruang antara batas dan beban; maka kita akan kehabisan tenaga, uang, dan menjadi amat letih. Tetapi sebaliknya, apabila kita selalu menjaga ada ruang antara batas dan beban; maka kita akan merasakan sukacita, mendapatkan kesempatan melayani orang lain, memiliki kesehatan yang prima, dan terjalin relasi yang positif serta kita selalu available.
Kelebihan beban adalah titik dimana batas-batas kita terlewati, dan godaannya adalah manusia melakukan lebih banyak daripada yang bisa ditanggung oleh batas-batas yang kita miliki. Sebenarnya, yang menjadi masalah bukan beban melainkan kelebihan beban. Beban bukanlah musuh, yang menjadi musuh adalah kelebihan. Jadi perlu diingat setiap manusia punya batas-batas.
Ada dua aspek yang mempengaruhi overload syndrome, yakni:
  1. Kemajuan dan perkembangan.
    Fakta ini tidak dapat dielakkan; dan berpotensi membuat kita ada dalam situasi tanpa margin, berpacu dengan kecepatan dan perubahan, stres, dan keruwetan akan kemajuan dan perkembangan yang kita alami saat ini.
  2. Terjebak dengan filosofi atau pemikiran duniawi misalnya: Jargon “Think BIG” atau “No Limit”.
Tanda-tanda manusia mengalami overload, antara lain :
  1. Gejala psikis: gelisah, depresi, kebingungan, pikiran negatif.
  2. Gejala fisik: sakit kepala, keletihan yang tidak bisa dijelaskan, gangguan pencernaan, meningkatnya infeksi.
  3. Gejala tingkah laku: mudah marah, pengunduran diri, berkendaraan terlalu cepat.
Kita harus berani menentukan batas, dan punya kendali atas waktu dan jadwal kita serta berani mengatakan “NO”, dengan tetap berpedoman pada kemampuan optimal yang kita miliki dalam arti batas terbaik dalam kapasitas yang dimiliki.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, Pemazmur dan Yakobus memberi pesan yang sama yakni keterbatasan manusia dan kedaulatan Tuhan. Pemazmur berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya ....” Ini berbicara tentang keterbatasan manusia. ”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Ini menyatakan Kedaulatan Tuhan. Demikian juga Surat Yakobus berkata, “’Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedangkan kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu?” Setiap kita harus sadar akan keterbatasan manusia dan kedaulatan Tuhan, dimana manusia harus memberi ruang untuk Tuhan yang tidak terbatas di dalam hidup kita yang terbatas. Amin.
 

(Disarikan oleh Kevin Kowinto)

Mazmur 127:1–2

127:1   Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2
 
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Yakobus 4:13–17

4:13   Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung",

4:14
 
sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

4:15
 
Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

4:16
 
Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

4:17
 
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Menjadi Gereja yang Mulia dan Misioner

GKY BSD

Giat Kerja Bagi Yesus Bertumbuh Setia & Dinamis

2016: Memenangkan, Memuridkan, Mengutus (3M) • 2017: Gereja yang Menjadi dan Menjadikan Murid • 2018: Diperlengkapi sebagai Murid Kristus

Acara Gerejawi